Ketika Pakaian Putihmu Mulai Kotor: Tentang Lingkungan yang Merusak Kesalehan

Bagikan Keteman :


Ketika Pakaian Putihmu Mulai Kotor: Tentang Lingkungan yang Merusak Kesalehan

Sebaik apa pun dirimu, sesaleh apa pun engkau berusaha menjadi, jika lingkungan di sekitarmu rusak — meremehkan larangan Tuhan, menganggap riba, suap, dusta, dan kebohongan sebagai hal biasa — maka cepat atau lambat, kerusakan itu akan menular juga padamu.

Bayangkan dirimu mengenakan pakaian putih berkilau, lalu berdiri di antara dinding dan tiang yang berlumur oli dan kotoran.
Tidak peduli seberapa hati-hati engkau melangkah, percikan itu pada akhirnya akan menodai pakaianmu juga.
Begitulah kehidupan: kebersihan jiwa tak bisa bertahan lama di tengah sistem yang kotor, jika kita hanya diam.


🌿 Kesalehan yang Terancam

Banyak orang merasa cukup dengan menjaga dirinya sendiri.
“Aku sudah shalat, aku tidak ikut-ikutan korupsi, aku tidak menyakiti orang.”
Namun, jika lingkungan di sekitarnya membusuk dan ia tidak berbuat apa-apa, maka ia sebenarnya sedang menunggu giliran untuk ikut rusak.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan indah:

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.
Penjual minyak wangi mungkin memberimu parfum, atau kau bisa mencium wanginya;
sedangkan pandai besi bisa membakar pakaianmu, atau paling tidak membuatmu mencium bau asapnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Lingkungan adalah cermin yang memantulkan siapa kita.
Ketika kebenaran menjadi bahan ejekan dan kemungkaran dianggap hiburan, maka iman tak hanya diuji oleh dosa, tapi juga oleh normalisasi dosa itu sendiri.


⚖️ Psikologi Penularan

Secara psikologis, manusia adalah makhluk peniru.
Nilai, gaya hidup, dan bahkan kesalahan moral bisa menular hanya karena sering dilihat dan diulang di sekitar kita.
Itulah mengapa Nabi tidak hanya memerintahkan umatnya untuk menjadi baik, tetapi juga memerangi kemungkaran dengan tangan, lisan, atau hati.
Karena jika keburukan tidak dilawan, ia akan berubah menjadi “hal biasa” — dan saat itulah kehancuran dimulai.


🔥 Tanggung Jawab Seorang Mukmin

Kesalehan pribadi bukan sekadar ibadah, tetapi juga tanggung jawab sosial.
Kita tidak cukup menjadi orang baik di tempat yang buruk — kita harus berjuang agar tempat itu menjadi baik pula.
Jika tidak, kita akan hanyut dalam arus yang sama, meski awalnya kita berdiri untuk melawan.

“Diam di tengah keburukan bukan bentuk kesabaran,
tapi bentuk penyerahan diri yang halus kepada kerusakan.”


🌤️ Penutup: Jagalah Pakaian Putihmu

Kebersihan hati tidak cukup dijaga dengan doa dan ibadah saja,
tetapi juga dengan keberanian untuk memperbaiki lingkungan, menegur yang salah, menolak yang batil, dan menjaga jarak dari sistem yang menodai nurani.

Karena iman itu seperti pakaian putih:
ia bukan hanya harus dijaga agar tetap bersih, tapi juga harus dijauhkan dari tempat-tempat yang membuatnya kotor.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment